Pelatihan Empatik I Menulis FLP Taiwan

Kamu suka menulis? Pengen jadi penulis? Gabung bersama kami, Forum Lingkar Pena Taiwan Pelatihan Empatik Menulis FLP Taiwan (rekrutmen anggota) hari/tgl : Ahad, 11 maret 2012 tempat : Pondok Budaya Taipei waktu : 09.00-15.00.

Penulisan Huruf Dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

EYD adalah rangkaian aturan yang wajib digunakan dan ditaati dalam tulisan bahasa indonesia resmi. EYD mencakup penggunaan dalam 12 hal, yaitu penggunaan huruf besar (kapital), tanda koma...

Lomba FTS ( Flash True Story ) FLP Taiwan - Perjuangan Hidup Di Negeri Formosa

Yuk, tuliskan pengalaman seru, haru, menginspirasi dan bahagia kalian, dan ikuti lomba perdana dari FLP Taiwan. Tema kita kali ini adalah "Perjuangan Hidup Di Negeri Formosa".

Ku coba memaknai semuanya dengan kekerdilan iman yang ku miliki

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" Qs. 2: 216

Tips Menulis Latar

Latar adalah tempat dan waktu dalam sebuah cerita. Latar bisa berupa tempat nyata, tetapi mungkin juga sebuah tempat fiktif. Beberapa tips untuk membuat latar kita hidup, diantaranya:

Showing posts with label Hafnidar Hasbi. Show all posts
Showing posts with label Hafnidar Hasbi. Show all posts

Tuesday, 3 January 2012

Ngupil

Ngupil
By: Hafnidar Hasbi

Menjelang musim dingin, air langit memang kerap turun. Dari atas Apartement lantai delapan tampak jalanan aspal seperti kristal kaca. Di sana sini terdapat bayangan pepohonan dan gedung tinggi. Lukisannya terpoles pancaran redup warna warni lampu jalanan. Suasana semakin syahdu oleh suara jangkrik yang bersahut sahutan. Perbukitan Ba Da Chung selalu memberi inspirasi kepada makhluk kecil ini untuk bernyayi di setiap malamnya. “Ini bukan kota, Ini desa yang memiliki kota”, “jelas ini kota”, perdebatan sengit antara Gasih dan Nilam beberapa waktu yang lalu. Meski Gasih setuju pada hampir semua hal dengan Nilam, tetapi selalu saja perdebatan terjadi. Sebagai Ibu, tujuan Gasih hanya ingin membangkitkan kepercayaan diri Nilam dalam mempertahankan pendapatnya. Tentu saja pendapat yang didukung oleh segala bentuk argumen yang logis, ilmiah dan dapat dijelaskan dari berbagai tinjauan ilmu.

Gasih tipikal Ibu yang bertanggungjawab. Meski hanya berstatus seorang Ibu rumah tangga, Gasih memiliki tanggungjawab sosial yang begitu besar. Pergaulannya pun sangat luas. Teman teman gasih berasal dari berbagai kelas sosial. Bahkan beberapa dari mereka dalam waktu dekat ini akan memperoleh gelar PhD dari berbagai Universitas terkenal di Eropa. Meski hanya lulusan Sekolah Menengah Atas, Gasih tidak pernah terpinggirkan oleh mereka. Kemampuan Gasih menyesuaikan diri memang patut diacungkan jempol. Kemampuan itu pula yang membuat Gasih berhasil menduduki beberapa jabatan penting di organisasi sosialnya.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Gasih memang sangat sibuk. Di sela sela waktu luangnya, Gasih juga harus menemani suaminya dinas ke luar kota, tak jarang juga ke luar negeri. Namun demikian, Gasih tidak pernah mengabaikan perhatian pada keluarga. Bagi Gasih, komunikasi merupakan cara yang paling penting dalam mengungkapkan perhatian. Beda dengan beberapa temannya, bagi mereka Jarak dan kesibukan adalah masalah.

Diam diam Gasih sering dongkol mendengar pengaduan beberapa temannya yang sedang tidak bersama keluarga. Mereka mengaku hanya seminggu sekali menghubungi anak-anaknya yang ditinggal di rumah. “Anakku bosan ditelpon terus, apalagi selalu ditanyai apa kabar....”, cetus Mira, sahabat Gasih yang sedang belajar di Belanda. Kalo Ira yang sedang mendapat tugas dari kantornya untuk mengikuti training di Jakarta selama 3 bulan mengaku sudah terbiasa jarang berkomunikasi dengan keluarga. Kesibukannya sebagai wanita karir membuatnya harus bangun pagi-pagi berangkat kerja dan tiba larut malam di rumah dalam keadaan lelah. Lebih dongkol lagi ketika Gasih tahu, Leni tetangga sebelah rumahnya yang notabene cuma dirumah saja 24 jam, punya kebiasaan lebih jelek dari teman temannya yang lain. Ibu dua anak ini hanya bertanggungjawab menyediakan makanan dan menjamin keindahan rumah, selebihnya dihabiskan untuk fesbukan, Ibu ini jarang ngobrol dengan anak anaknya.

Semua ini tidak berlaku bagi Gasih. Gasih dan putrinya, Nilam tidak pernah merasa bosan berkomunikasi. Pernah suatu hari ketika Gasih berada di luar daerah. Gasih berdiskusi alot dengan Nilam melalui telpon. Gasih mengutarakan hasil observasi dan perasaannya pada Nisa. “Nis, mama kok nggak habis pikir ya, kenapa anak-anak sekarang, khususnya di kota kota besar kayak Jakarta ini, anak-anak baru usia 9 tahun sudah mendapatkan menstruasi. Memang sih kemajuan teknologi, media masa zaman sekarang jauh lebih canggih dibanding dulu sehingga anak-anak sekarang semakin familiar dengan suguhan yang berbau pornografi, tapi......” terdengar suara Gasih yang keibuan berapi api mengutarakan pendapatnya. Sebelum melanjutkan pendapatnya, Gasis menghela nafas sejenak “....tapi, zaman dulu, teman-teman mama juga banyak tu yang suka baca novel novel saru kayak Fredy S....Edward N....dan bla bla.....”.

Nilam menyimak dengan tenang apa yang dikemukakan Ibunya. Selama ini diskusi antara Gasis dan Nilam selalu menarik perhatian keduanya. Gasih begitu lihai memberi rangsangan kepada Nilam agar tereksplorasi semua kemampuan Nilam berpendapat. Keadaan ini semakin membuat Nilam gemar membaca. Nilam sering merelakan waktunya untuk mencari alasan atas statement yang terlanjur dikeluarkannya. Apalagi ketika Gasih berlagak bodoh atas ucapan-ucapannya. Gasih semakin semangat saja memberi penjelasan kepada Nisa.

Gasih dan Nilam memang tampak kompak sekali, terkadang mereka berdua tampak seperti kakak beradik. Bagi Gasih tidaklah sukar mengimbangi Nilam. Meski usia mereka terpaut 30 tahun, pengalaman hidup belasan tahun dengan berbagai usia di asrama sekolah dulu cukup mapan membentuk sekelumit bangunan sosok kanak kanak, dewasa dan orang tua dalam struktur jiwa Gasih. Struktur jiwa itu masih begitu utuh, siap dipanggil kapan saja. Struktur itu telah berhasil membuat Nilam begitu bangga menjadi sosok pelindung bagi ketidakberdayaan yang kerap diciptakan Gasih. Struktur itu pula yang menjadikan Nilam seperti balita kecil lucu yang kerap membangkitkan kegembiraan seisi rumah.
..................
Hari ini Nilam bangun lebih awal dari biasanya. Hatinya tidak kalah sejuk dari rintik hujan yang turun sejak kemarin sore. Dari jelendela dapur milik rumah mereka, tampak Burung Pipit bergoyang goyang di atas ranting cemara. Meski tangannya tidak berhenti mengguliti ikan, mata Nilam yang bening tidak bisa berhenti menatap ke luar. “Burung saja berani mengambil resiko dengan bertandang pada ranting yang lemah, mengapa aku tidak?” bisiknya. “Mestinya, hari ini, diusiaku yang genap 18 tahun, aku semakin berani berdamai dengan resolusi hidup yang telah kulukis di malam tahun baru itu...” Nilam terus bicara dalam hati sambil mengguliti seekor Ikan Tenggiri besar kesukaan orangtuanya. Ikan itu akan diolah Nilam menjadi Empek-empek kesukaan Galih dan suaminya. Jika orang lain memiliki kebiasaan menerima hadiah dihari ulang tahunnya, namun tidak dengan Nilam.

Nilam memiliki filosofi, dihari ulang tahun mestinya kita lebih membahagiakan orang yang selama ini telah membiarkan kita hidup bahagia, dengan demikian kebahagiaan kita menjadi lebih sempurna. “Bukti atas wujud rasa syukur pada yang maha kuasa...” tulis Nilam pada selembar kertas berpitakan pink yang diselipkan di atas piring empek empek untuk orang tuanya.
Nilam belia, tumbuh sempurna sebagai sosok gadis yang cerdas, mandiri, ramah dan penyayang. Status sebagai anak tunggal dari keluarga serba ada tidak membuatnya suka berhura hura dan manja. Setiap masalah dapat dilaluinya dengan sempurna. Persis seperti caranya menyelesaikan diskusi diskusi yang kerap diperdebatkan dengan Gasih, selalu saja berakhir dengan manis. Memecahkan masalah sudah menjadi kebiasaan Nilam sedari kecil. Semua ini tentu berkat kerja keras Gasih dalam mengasuh anak semata wayangnya. Keuletan Gasih kerap mendapat pujian suami dan teman temannya, meskipun sebenarnya ada satu hal yang paling ditakutkan Gasih dalam hidupnya yaitu ngupil.

Sejak menikah dan punya anak, ngupil adalah perihal yang paling ditakutkan Gasih. Gasih tidak pernah bisa membiarkan Nilam sendirian. Apalagi duduk melamun, terdiam merenungi sesuatu. Gasih sangat khawatir Nilam akan mewarisi kebiasaan ngupil dirinya. Gasih dilahirkan dalam keluarga kecil tiga bersaudara. Ayah Ibunya buruh tani di kampung. Mereka tidak pernah mengenyam pendidikan apalagi membaca koran, majalah, nonton TV dan media komunikasi lainnya. Sebagai anak bungsu, Gasih sangat tergantung pada orang tua dan dua orang kakaknya.

Gasih cerdas tumbuh sebagai anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Gasih selalu penasaran dengan hal hal yang baru. Sayangnya, setiap kali Gasih mengajukan pertanyaan, selalu saja ejekan yang diterimanya. Orang tua dan kakak kakak Nilam jarang menghargai pertanyaan sederhana yang keluar dari mulut Gasih kecil. Suatu hari Gasih penasaran sekali dengan cabai yang berwarna merah dan rasanya pedas. Menurut Gasih merah itu warna yang menarik, tetapi mengapa rasanya begitu jahat sehingga anak kecil seperti dirinya dilarang makan. Gasih kecilpun bertanya “ini apa Ma? mengapa cabai warnanya merah? mengapa rasanya pedas?” Orang tua Gasih yang tidak pernah mengecap pendidikan sukar sekali untuk meladeni pertanyaan bodoh seperti ini. Seringkali Ibu Gasih tidak mau mengubrisnya. Dua orang kakaknya dengan suara tinggi membentak Gasih untuk segera diam. Kejadian ini terus berulang sampai pada suatu hari Ayah Gasih benar benar murka atas celotehan Gasih kecil. Ayah tidak jadi meneruskan makan malam hanya karena Gasih bertanya mengapa kotorannya berwarna kuning. Gasih benar benar ketakutan dan lari ke luar rumah.

Sejak saat itu, Gasih benar benar memilih diam. Dia tidak pernah memberanikan dirinya lagi untuk mengajukan pertanyaan kepada siapapun. Rasa keingintahuannya berusaha dijawabnya sendiri. Membaca adalah pelabuhan terakhirnya. Gasih selalu berusaha mencari tempat senderan terbaik untuk duduk termenung sambil memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang hidungnya yang kecil. Pekerjaan mengupilnya berjalan seiring dengan pikirannya yang terus mengolah setiap kalimat yang baru saja dibacanya. Akirnya Gasih menemukan muara atas kekalutan jiwanya. Persis seperti musafir di padang pasir yang menemukan setetes air.

Kegersangan jiwanya telah dirapatkan semuanya dalam ngupil. Tidak ada yang tersisa sedikitpun. Semua relung relung kosong hatinya telah tertambat pada kegairahan fatamorgana. Gasih telah menemukannya. Gasih telah mendapatkan seluruh rasa ingin tahu dan jawaban atas setiap pertanyaan yang dianggap bodoh oleh orang lain. Rasa ini tidak ada bandingannya, seperti mendapat sejuta penghargaan dari atas istana kahyangan. Dalam aktifitas ngupilnya, Gasih tidak lagi membutuhkan orang lain. Gasih sudah cukup mapan dengan apa yang ia punya. Tidak perlu lima, tapi cukuplah satu jari saja yang bisa digoyangkan ke kanan dan ke kiri.

Sampai hari ini, tidak ada seorangpun yang tahu, kecuali seluruh pancainderanya yang terus berjaga jaga agar Nilam, putri kesayangannya tidak pernah merasakan siluwet hidup yang tidak pernah diinginkannya itu.  Satu waktu yang paling mengkhawatirkan Gasih baru baru ini, yaitu saat Nilam tenggelam dengan pencariannya tentang hakikat sahabat sejati. Meski hampir semua teman-teman cewek Nilam telah memiliki teman spesial yang berjenis kelamin cowok, Nilam masih bersikukuh pada prinsipnya tidak pernah ingin pacaran. Sedari kecil Gasih memang telah menanamkan prinsip ini pada Nilam. “Pacaran itu merugikan” simpul Nilam. Nilam spontan berubah menjadi sosok gadis pendiam. Sehari hari hanya duduk termenung dan befikir keras. Tidak seperti biasa, berbagai tema diskusi yang disodorkan Gasih tidak berhasil mengalihkan perhatian Nilam. Bagaimana tidak, kakak kelas yang selama ini diam-diam dikaguminya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Cowok itu mengutarakan isi hatinya lewat kiriman bunga dan coklat kesukaannya.

Gasih tidak bisa membiarkan keadaan ini berlarut, namun Gasih seperti kehilangan dirinya untuk melakukan yang terbaik untuk putrinya. Mendadak Gasih pun berubah menjadi hyperarousal. Gasih menjadi super tanggap dengan gerak gerik Nilam. Sedikit saja  Nilam mengangkat tangannya ke atas, dengan secepat kilat tangan Gasih menyambar jari-jari Nilam. Gasih sangat khawatir, tangan mungil milik Nilam akan mendarat ke hidungnya yang mancung.  Gasih menyesal dengan dirinya. Nilam pun bingung dibuatnya. “Oh Tuhan....mengapa aku menjadi begini” bisik Gasih. Gasih pura pura tidak tahu. Gasih kembali melanjutkan bacaannya meski Nilam yang duduk di sampingnya masih dalam keheranan menatap Gasih tanpa kata.

Meski sedikit berbalut galau, Gasih sangat bersyukur aktifitas ngupilnya telah lama ditinggalkannya. Menjelang ujian EBTANAS SMP duapuluhan tahun yang lalu, Delih, Kakak Gasih yang pertama mengajak Gasih ke dokter. Saat itu kedua hidung Gasih bengkak dan berdarah. Ketika itu Gasih memang sangat khawatir dengan nilai ujian EBTANASnya. Gasih tidak bisa meninggalkan aktifitas ngupilnya sedetikpun, hingga hidungnya bengkak, luka dan berlumurkan darah. Dokter memberi rujukan agar Gasih mendapatkan psikoterapi dari Psikolog. Tiga bulan lamanya Gasih rutin mengunjungi Ibu Dina, Psikolog terkenal di kota itu. Gasih ingat sekali dengan berbagai kegiatan terapi yang diberikan Ibu Dina.

Diam diam Gasih tersenyum membayangkan keduatangannya yang dengan suka rela diikatnya sendiri ketika pikirannya sedang galau. Gasih juga ingat betul bagaimana ia dengan bangganya menghadap Ibu Dina pada setiap pekannya sambil memperlihatkan lembaran tugasnya yang penuh bintang warna warni dan setelah itu ia pasti membawa banyak sekali hadiah pemberian Ibu Dina sambil bernyanyi nyanyi di sepanjang jalan. Seuntai senyum tersungkir di bibir Gasih. Lagi lagi Nilam melirik ibunya yang sedang duduk di sampingnya. “aneh...” pikir Nilam. “Tadi Ibu menyambarku yang tajamnya bagai petir, sekarang Ibu senyum senyum sendiri...” akhhh.........  

komen:


    • YuheRina 于麗娜 Gusman o.. itu makna ngupil :P xixixi.. bagus kak.. kaya pembelajaran, khususnya buat yg mau jadi ibu :) tapi.. hm... kendala saya dalam membaca cerpen ini.. sampai selesai membaca, sy masih luping (lupa2 ingat), gasih siapa.. nilam siapa... maksudnya, ada kekhawatiran tertukar, tadi yg jd ibu namanya gasih atau nilam ya...
      13 November 2011 at 22:46 · 
    • Hafnidar Hasbi hihii...kok bs bgt ya, sy jg begitu.. suka tertukar nama wkt nulis...ketahuannya pas membaca kembali. Apa karena cara penulis memposisikan Gasih (Ibu) dan Nilam (anak) itu sama ya? mhn pencerahannya :)
      13 November 2011 at 23:03 · 
    • Ashif Aminulloh 
      stelah baca sampai akhir, ternyata ini cerpen dengan tema yg sangat unik. ngupil sebagai penyakit psikologis, saya baru tahu, ta'kira sejak awal cerpen ini tentang persahabatan nilam dan gasih, ternyata mereka ini ibu dan anak.

      seperti komen saya sebelunya di cerpen mb yuher, cerpen ini juga menurut saya belum fokus kepada konflik. padahal ia punya potensi konflik yg sangat besar: ngupil dan terapinya. :D
      mungkin kalau bisa dieksplor lebih dalam ke aktivitas ngupil dan segala permasalahan dan kelucuannya serta keuinikannya ini akan jadi cerpen yang eksotis. seperti cerpen2 mas Joni Ariadinata yg juga sering mengeksplor sisi2 unik kehidupan. atau Seno Gumira atau Putut EA. Sastra memang adalah seni, dalam bentuk kata2. Dan eksplorasi jiwa sangat mungkin dilakukan dengannya. Kayaknya Bu Nidar punya bakat u jadi sastrawan nyentrik. :D

      u itu perbaikan di cerpen ini kalau menurut saya ada beberapa poin: tentang karakter, betul sekali mb yuher di komen di atas, kalau kt bingung dg tokoh ini siapa nama siapa, berarti penokohan kt belum sukses, karena itu tokoh harus ditajamkan. dg cara yg 3 tadi: 1.tunjukkan perilaku khusus tokoh, 2.percakapan tokoh, 3.tanggapan tokoh lain thdp tokoh itu.

      alur juga perlu diperbaiki, karena menurut saya alur di cerpen ini kurang membuat pembaca untuk terus terjebak pada bacaan. tidak ada misteri/konflik yg dibangun sejak dini. di awal ada perkenalan dengan gasih dan keluarganya, di tengah permasalahan si anak dg masa remajanya di akhir ada permasalahan ttg upil. ini sangat lebar dan menurut saya membuat pembaca agak bingung dengan cerita.

      satu lagi tentang gaya penceritaan, dalam teori menulis fiksi ada ungkapan umum u dipahami: show dont tell! tunjukkan jangan ceritakan. ini adalah cara paling efektif membuat tulisan kita terus menerus dinikmati pembaca. karena bahasa2 penuturan secara lugas membuat pembaca bosan, sementara itu pembaca akan tertarik dengan gaya pengggambaran, seperti: "Ia menarik gagang pintu dan melangkah gontai ke ruang seminar" kalimat ini akan lebih dinikmati pembaca ketimbang: "ia berangkat untuk mengisi seminar dengan malas"...

      oh ya, dalam menulis, harus juga dipertimbangkan efektifitas kalimat. tidak semua hal harus ditulis dan diceritakan pada pembaca, tujuan kita adalah membangun konflik yg membuat pembaca terus terusan membaca sampai akhir, kalau menulis terlalu bnyk kalimat dan informasi membuat pembaca tidak melanjutkan membaca, maka kita belum berhasil di tahap paling awal.

      kira2 sperti itu bu Nidar, semoga sharing ini bermanfaat. :)
      14 November 2011 at 00:40 ·  ·  1
    • Siti Allie Baru baca judulnya udah ketawa duluan, penasaran, saya baca dulu ah....
      14 November 2011 at 01:00 ·  ·  1
    • Nayo Aja 
      Hmmm...ga mudah membuat cerita yang lucu. Beberapa paragraf bikin ngakak. selamat mbak hafnidar, berhasil untuk ini.

      Seperti yg lain, Aku juga kesulitan mengingat nama tokoh. Dan seperti yang dikatakan masternya menurutku juga kurang fokus. Seperti di paragraf 8 yang titik fokusnya ke Nilam "Hari ini Nilam bangun lebih awal dari biasanya........" yang kemudian dilanjutkan diparagraf 9 yang masih mengupas ttg Nilam, tp anehnya fokus ini berpindah ke Gasih diakhir paragraf 9.

      Satu lagi, diparagraf 8 "Nilam terus bicara dalam hati sambil mengguliti seekor Ikan Tenggiri besar kesukaan orangtuanya. Ikan itu akan diolah Nilam menjadi Empek-empek kesukaan Galih dan suaminya." kalimat ini sepertinya ada yang anrh. Dan mungkin ini yang disebut kesalahan sudut pandang.
      14 November 2011 at 01:46 ·  ·  2
    • Hafnidar Hasbi 
      Terimakasih komentar dan masukannya Mb Yuher, Mas Ashif, Mb Siti Allie dan Mas Nayo Aja. Ini pengalaman kedua bikin fiksi. Ide cerita terinspirasi dari permasalhn psikologis. Memang benar seperti yg dikomentari, ketika menulis cerita ini sy...See more
      14 November 2011 at 02:13 · 
    • Nayo Aja Diparagraf 11, 12 dan 13 mbak, khususnya bagian akhir tiap paragraf tsb.

      Puncaknya ini : "....Akhirnya Gasih menemukan muara atas kekalutan jiwanya. Persis seperti musafir di padang pasir yang menemukan setetes air...." menurutku ini penggambaran yang berlebihan yang membuatku berimajinasi dan ngakak.
      14 November 2011 at 02:43 ·  ·  1

Tongkat

By HH

Semua ucapan Sabar menjadi nihil setelah seorang laki laki senja yang menggunakan tongkat itu turun dari mimbar khatib. “yang pasti dia penumpang juga, tidak ada identitas pada pakaiannya yang menunjukkan dia petugas kapal” ucap Aris seadanya. “Lalu siapa yang menemaninya? Bagaimana jika tongkatnya hilang atau ada yang sengaja menyembunyikan?” pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benak Sabar mengikuti setiap lintasan bayangan berwujud tongkat dalam imajinasinya.

“Kenapa kau tertarik sekali dengan tongkat kakek itu Bang?” tanya Aris dengan logat kental  Medan. “ah, tahu apa kau anak kecil” timpal Sabar seraya memegang bahu Aris yang masih setinggi pinggangnya. “Hari ini hari kedua kita berada di atas kapal besar yang bernama LAWIT ini dek”, buru buru Sabar berujar menghindari serangan pertanyaan Aris berikutnya. Sabar tahu betul cara Aris berfikir. Pasti Aris tidak akan tinggal diam dikatakan anak kecil meskipun ia benar benar masih kecil. “artinya.....” sambung Sabar kemudian. Sesaat terdengar suara helaan nafas milik Sabar. “Artinya, masih bersisa dua hari satu malam lagi perjalanan kita ke Tanjung Periok”, Sabar diam menatap tajam lepas jauh ke depan, seakan tatapan itu dapat menembus atmosfir yang mencapai kaki langit di seberang lautan sana.

“Bang, mengapa tidak kita jamak saja shalat kita bang”, tanya Aris sambil sedikit mendongak ke atas agar bisa melihat jelas wajah abangnya yang jangkung. “Tujuan Bapak dan Emak memintaku mengantar kau ke Gontor sekarang ini adalah agar kau tahu membedakan Shalat Jamak dan Shalat Qasar Ris!  tenang sajalah Ris, sebentar lagi kau juga akan tau itu semua!” ucap Sabar tajam.

“Lhaaaa.....kemaren  sebelum naik ke kapal ini kau bilang kita akan menjamak shalat kita bang, kenapa sekarang malah Abang tidak menepati bang” Aris berusaha melawan apa yang dikatakan abangnya. Dengan sekejab tubuh Sabar berbalik arah. Sabar menatap tajam adik semata wayangnya. Keduatangan Sabar mendekap keras kepalanya sendiri. Tidak lama kemudian tampak Sabar memutar kembali tubuhnya sambil sesekali diletakkan kepalanya di atas pagar besi teras kapal itu. Aris yang baru menamatkan Sekolah Dasar seperti tidak mengerti dengan keadaan Sabar, abangnya.

“Bang, kata Ibu Halimah, guru pelajaran Agama Islam di sekolah aku dulu, kalo mau menjamak shalat itu boleh bang, bagi musafir seperti kita ini bang” Aris kembali berseru dengan terbata-bata. ”Apalagi penumpang kelas ekomoni seperti kita, mau wudhu saja antriannya cukup panjang bang, belum lagi harus antrian makan, kamar mandi, antrian naik tangga menuju Mushala...”. Aris terus berucap sedang Sabar masih tidak bergerak dalam diamnya.

“Ting...ting...ting...”.  “ Nah itu bunyi alarm, kita harus segera menuju ke tempat antrian makan”, spontan Sabar memutar tubuhnya sambil meraih tangan adiknya siap menuju ke ruangan di sebelah dalam. “Bagaimana jika tiba tiba adzan berkumandang bang? Aku tidak mau malam ini kita tidak makan seperti siang tadi” Aris masih tidak mau melangkahkan kakinya. Dengan sekuat tenaga ditariknya genggaman tangan Sabar. Aris menatap lekat abangnya, meminta persetujuan atas pernyataannya. “Nanti saja kau lihat, ikuti saja dululah, janganlah kau keras kepala sama abangmu ini Ris” hardik Sabar tajam pada adiknya.

Tubuh Aris gontai mengikuti setiap langkah Sabar. Aris masih membayangkan betapa berat harus keluar dari barisan antrian panjang setelah mendengar suara Adzan nanti. Perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi malam ini. “Bang...Bang....!” tangan Aris berusaha menggoyang gepalan tangan Sabar yang memegangnya kuat. Sabar seperti tidak peduli meski diam diam Sabar kasihan pada adiknya. Namun bayangan tongkat itu kembali begitu kuat melarangnya untuk takluk pada saran adiknya.

Ingatan Sabar akan tongkat almarhum kakek 20 tahun yang lalu belumlah pudar. Meski kakek telah lama tiada, semua ajaran, petuah dan aktivitas bersama kakek masih jelas dalam ingatan Sabar.
Sabar kecil memang diasuh oleh kakek dan neneknya di kampung. Kakek seorang imam yang sangat disegani. Kakek memiliki balai pengajian yang rutin dikunjungi penduduk setiap hari, mulai dari anak- anak, remaja, sampai Ibu-ibu/Bapak-Bapak serta lansia. Didikan kakek sangat keras. Kakek tidak pernah membiarkan begitu saja santri yang belum bisa mengaji, atau santri yang belum bisa menghafal dan mengerti isi kitab tentang rukun iman dan islam. Tidak pun ada satu orang santri saja yang berani menentang kakek saat itu. Figur kakek begitu kuat dengan sebatang tongkat yang tidak pernah jauh dari kursi tempat ia duduk. Tongkat itu kerap digunakan kakek untuk memberi penjelasan bahkan untuk mengancam santri yang tidak serius belajar.

Kakek tidak pernah pilih kasih. Meski cucu sendiri, Sabar juga pernah berinteraksi dengan kekejaman tongkat milik kakek. Parut bekas luka di kaki sebelah kanan Sabar menjadi bukti bahwa Sabar pernah meninggalkan Shalat berjamaah akibat lalai bermain bersama kawan. Sabar yang saat itu masih berusia 7 tahun cukup shok mendapatkan hukuman itu. “Patuh dan belajarlah dengan baik karena kamu yang akan menggantikan kakek memimpin pondok ini” pesan kakek suatu hari. Pesan ini begitu berat dipikul Sabar kecil, hingga tidak sekalipun ia pernah mengijinkan dirinya berbuat kesalahan. Meskipun sampai sekarang, Sabar belum bisa memaafkan dirinya. “Bayangan tongkat kakek masih begitu kuat,  tongkat itu tidak pernah mengijinkanku untuk meninggal shalat sekalipun Tuhanku telah memberi fasilitas Jamak dan Qasar untuk diriku dan adikku” bisik Sabar pada dirinya sendiri, miris.....

Komen:


    • Siti Allie Kata Gontor mengingatkan aku pada novel Negeri Lima Menara Bu :)
      18 November 2011 at 08:00 ·  ·  1
    • Tina Yanesh he he pingin ketawa , ko nama kapal kita sama ya Mbak Hafnidar ^ ^
      18 November 2011 at 23:38 ·  ·  1
    • Nayo Aja I LIKE THIS.

      Tiba-tiba saja awak bisa bicara bahasa medan bah! hehe...

      Buatku ini lebih hidup dibanding tulisan sebelumnya. Idenya simple dan dikembangkan dengan menarik. Mengenai penokohan biar mas Ashif aja hehe. Cuma aku ga suka nama tokoh utamanya Sabar, dan jika nama ini ada korelasi dengan sifat dari tokoh tersebut, sepertinya koq ga ngena.

      btw tetep semangat mbak Hafnidar.
      19 November 2011 at 05:04 via Mobile ·  ·  1
    • Hafnidar Hasbi Thank Mas Nayo Aja, nama Sabar terinspirasi dari seorg tmn di medan, Sabar Sinaga....ya benar nama Sabar punya konotasi dgn sifat Sabar. Lbh sesuai dikash nama Sinaga atau Sitompul atau Sabaruwa....
      19 November 2011 at 09:30 · 
    • Kwek Li Na menikmati
      19 November 2011 at 15:34 via Mobile ·  ·  1
    • Ashif Aminulloh 
      meskipun sangat singkat, bu nidar berhasil memberikan penokohan yg kuat u tiga karakter yg muncul d cerpen ini. anak kecil yg serga ingin tahu dan kritis, pemuda yg keras kepala, juga seorang kakek yg disegani. beberapa catatan u cerpen:

      -ada deskripsi yg membuat sy bingung. kemungkinan karenap pnggunaan kalimat yg kurang efektif, atau mungkin diksi yg perlu sedikit disesuaikan. cntoh: "sambil sesekali diletakkan kepalanya di atas pagar besi teras kapal itu" apakah kita bisa meleakkan kepala sesekali di atas pagar besi? mungkin menyandarkan, atau bersandar. kalau meletakkan kepala saya jd mikir yg enggak2-ex:hantu tak berkepala.:D. nanti bisa kt pelajari lbh lanjut tentang pemilihan kata yg efektifi di bab DIKSI.

      -ttg tokoh anak, sudah bagus, penggambaran lewat eksplorasi pemikiran si aris membuat kita paham siapa aris dan apa motifnya dalam cerita ini. lalu sabar yg awalnya misterius, jadi terbuka di akhr bahwa ia sebenarnya punya ingatan traumatis tentang tongkat kakeknya. sementara kakek, nah ini yg mungkin perlu dieksplor lebih jauh. u menunjukkan bahwa seseorang memiliki sifat tertentu, kita sebaikny menghindari pengungkapan langsung. seperti: dia periang. lebih baik kalau: pak karso sering tersenyum dan menyanyi sendiri. nah, d penggambaran kakek jg begitu, kl bisa dihindari yg ini: "Kakek seorang imam yang sangat disegani". atau "Figur kakek begitu kuat"

      selebihnya, saya agak bingung dg alur cerita, kenapa kakek di awal yg muncul setelah khutbah lalu muncul di ingatan sabar sebagai penyebab ia tidak menjamak sholat? mungkin perlu ada satu paragraf yg menjelaskan lebih ttg apa yg sebenarny terjadi. terutama di paragraf2 akhir.

      overall ini cerpen dg penggambaran setting yg menarik. udah pernah naik kapal very ekonomi btulan ya bu? terus tingkatkan bu nidar...^^
      19 November 2011 at 23:08 ·  ·  1
    • Hafnidar Hasbi Terimakasih banyak Mas Ashif Aminulloh, comment2nya sangat menginspirasi saya utk terus belajar dan berlatih. Kayaknya mulai skr lbh cocok kalo saya panggil Pak Guru Ashif saja deh atau Ashif Aminulloh lowshe..:)
      20 November 2011 at 03:20 ·